(Tak Ada) Senja Sepekan

Gemuruh rintik terus bernyanyi riang
Sementara derau angin melambai kencang
Sepekan hitam langit  tak lagi jingga apalagi kemuning

Butiran bening menyiram pusara bumi
Basahi semesta raya
Hingga bebatuan tanah tak cukup ruang menampung genangannya

Apalagi sejak berpuluh pepohonan telah lenyap
Dahan dan ranting tertinggal batang
Sebatang kara dengan tentu saja akar yang mulai membusuk perlahan.

Lalu berpasang-pasang anak sungai meluap
Berbuah air bah meratakan sawah si tani.
Tua tapak jembatan hampir roboh
Si bronjol lelah menahan rindu dikikis rayu pinggir sungai

Kemudian sepekan lagi
Dan sepekannya lagi
Hujan terus bersenandung merdu
Tepat di atas kepala atap ilalang.

Dengan enggan sesekali kau terpaksa menikmatinya
Mengikuti dentuman iramanya
Sambil menghitung sekiranya berapa legam gulita lagi harus diam bersamamu
Sekiranya kapan gemulai rinai rintik akan usai.

Risau mu....
Mengingat padi dan sapimu
Tapi kemudian risaumu lah yang usai.

Kau terpejam semalaman karena senandungnya
Kau menikmatinya
Kau menikmati nyanyian alam yang tak pernah bisa kau taklukan selain kau terima dengan lapang
Sebab memang begitu lah adanya

Ini penghujung musim dengan sedikit belaian mentari
Ini purnama gulita tanpa bias gemerlap bintang
Hanya Awan kelabu setia menggelantung
Menyisahkan tak ada Senja jingga sepekan

Ini alam
Ini semesta
Ini Karya-Nya
Ini Kehendak-Nya
Kau tak berhak menggerutui-Nya

(Lalu Kau terlelap dengan senyum, bermimpi seolah esok mentari kan bersinar ceriah menyegarkan dedaunan padimu dan menghangatkan raga sapi mu)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BORNEO

S A B A R

Sabar Semesta