Surga Kecil Jatuh ke Bumi
Tanah Papua
Kau pesonakan Aku
Dengan indahmu
Langit biru sedang di sebelah kelabu
Rinai hujan sedang di seberang terik mentari memamerkan kuasanya
Kau takjubkan Aku
Terpaku ragaku
Sejenak merenung
Aneh
Di ujung diamku
Aku tersenyum
Sungguh tak sekedar unik.
Papua...
Negeri seribu gunung,
Seribu hutan,
Seribu rawa
Kau telah melekat erat dalam kalbu.
Papua...
Gunung lembah nan hijau hutan rimbamu.
Mengajak sebagian dari penghuni negerimu
bersenandung Lagu sendu 'Tanah Papua'.
Dalam ayunan langkah berirama Yosim
Pancar, tarian tradisi mu
Mengikuti genderang Tifa gendang mu
Dalam khasnya Moge Mace eksotikmu
Dan Koteka Pace beringasmu bertatah riasan
mahkota Hiare
Sedang panah busur pada tangan gagah.
Pesona mu Papua
Sungguh!
Aku bahagia
Sebab Aku telah menikmati segala penjuru
pesona rupawanmu.
Tanah Papua
Surga kecil jatuh ke Bumi
Aku mengagumi mu.
Kau pesonakan Aku
Dengan indahmu
Langit biru sedang di sebelah kelabu
Rinai hujan sedang di seberang terik mentari memamerkan kuasanya
Kau takjubkan Aku
Terpaku ragaku
Sejenak merenung
Aneh
Di ujung diamku
Aku tersenyum
Sungguh tak sekedar unik.
Papua...
Di atas tanahmu
Kini Aku meneruskan mimpiku
Aku menghidupi raga rapuh ku
Aku atas kehendak Tuhan ku
Menulis dengan tinta bermacam warna
Tentang Aku dan duniaku
Aku dan kisahku
Senyum dan muram ku
Tangis dan tawa ku
Diam dan bicara ku.
Papua...
Negeri seribu gunung,
Seribu hutan,
Seribu rawa
Kau telah melekat erat dalam kalbu.
Papua...
Gunung lembah nan hijau hutan rimbamu.
Mengajak sebagian dari penghuni negerimu
bersenandung Lagu sendu 'Tanah Papua'.
Dalam ayunan langkah berirama Yosim
Pancar, tarian tradisi mu
Mengikuti genderang Tifa gendang mu
Dalam khasnya Moge Mace eksotikmu
Dan Koteka Pace beringasmu bertatah riasan
mahkota Hiare
Sedang panah busur pada tangan gagah.
Pesona mu Papua
Sungguh!
Senandung lembut dari alam sunyi
Akan uniknya Cendrawasih serta Kasuari
Elok dan rupawan bak anak dara Mace mu.
Tanah Papua
Kau antusiaskan hasratku
Akan kebesaran Barapen
Kau sentakan akal sehatku
Akan mahalnya kayu palang denda adat mu
Dan risaukan pikiran ku
Akan kebiasaan perang suku mu.
Sedang Honai menanti untuk ku abadikan
Lewat lensa cekung cembungku.
Telah pula ku kecapi anehnya rasa PapedaSagu mu.
Aku bahagia
Sebab Aku telah menikmati segala penjuru
pesona rupawanmu.
Tanah Papua
Surga kecil jatuh ke Bumi
Aku mengagumi mu.
(Inee, Papua, 03 Agustus 2014)
Komentar
Posting Komentar