Potret Mengabdi
Karena pernah begitu tertatih gapai mimpi
Karena pernah begitu letih menyeka peluh
Pun karena pernah begitu panjang jejak mencari asa untuk jadi nyata
Benar....
Semua karena jerih lalu.
Karenanya
(Aku, Seandainya "menunggu" ku tak selampau ini...Segera tanpa perlu jawab Aku telah bersandar pada dinding cerita itu lagi)
(Jejak Mengabdi Guru SM-3T Angk.3 di SMKN 1 Tigi Kab. Deiyai-Papua)
Karena pernah begitu letih menyeka peluh
Pun karena pernah begitu panjang jejak mencari asa untuk jadi nyata
Benar....
Semua karena jerih lalu.
Karenanya
Kau semena-semana dibawah pergi Sang Takdir
Ia membawa mu
Mengubah mu
Memenuhi asa senyap mu
Di pedalaman dingin itu.
Dua musim itu Kau kecap mimpi itu
Kau bagi amanat itu
Kau bagi mimpi itu
Demi Mereka punya pula mimpi.
Nyata lah memang raga sederhana itu pernah Kau puja, sebab keunikannya bahkan pada sehelai rambut ikal yang tak kau punyai
Benar adanya Kau terkejut awalnya
Lalu diam terpana karena kagum mu
Lalu tersipu senyum
Bahkan tertawa lepas bersama.
Kau bahagia
Mereka bahagia
Kau terluka
Mereka terluka
Saat airmata dan wajah nelangsa adalah semata bukti nyanyian sunyi perpisahan itu.
Hampir lima musim berlalu
Namun mimpi yang tak pernah tidur itu kembali mengetuk kalbu
Sekedar mengenang katanya
'Ayolah' ia bilang
'Apa Kau telah melupa?' Seketika Kau mengenang
Pada potret-potret yang beterbangan
Bernama Kenangan
Nyata lah kini Mereka diam di lubuk mu
Diam-diam Mereka merindu mu lagi
'Sebaliknya Lebih merindu lagi Aku' bisikmu
Sesaat ada tanya
Mau kah Kau pergi temui lagi senyum itu?
Ia membawa mu
Mengubah mu
Memenuhi asa senyap mu
Di pedalaman dingin itu.
Dua musim itu Kau kecap mimpi itu
Kau bagi amanat itu
Kau bagi mimpi itu
Demi Mereka punya pula mimpi.
Nyata lah memang raga sederhana itu pernah Kau puja, sebab keunikannya bahkan pada sehelai rambut ikal yang tak kau punyai
Benar adanya Kau terkejut awalnya
Lalu diam terpana karena kagum mu
Lalu tersipu senyum
Bahkan tertawa lepas bersama.
Kau bahagia
Mereka bahagia
Kau terluka
Mereka terluka
Saat airmata dan wajah nelangsa adalah semata bukti nyanyian sunyi perpisahan itu.
Hampir lima musim berlalu
Namun mimpi yang tak pernah tidur itu kembali mengetuk kalbu
Sekedar mengenang katanya
'Ayolah' ia bilang
'Apa Kau telah melupa?' Seketika Kau mengenang
Pada potret-potret yang beterbangan
Bernama Kenangan
Nyata lah kini Mereka diam di lubuk mu
Diam-diam Mereka merindu mu lagi
'Sebaliknya Lebih merindu lagi Aku' bisikmu
Sesaat ada tanya
Mau kah Kau pergi temui lagi senyum itu?
(Aku, Seandainya "menunggu" ku tak selampau ini...Segera tanpa perlu jawab Aku telah bersandar pada dinding cerita itu lagi)
(Jejak Mengabdi Guru SM-3T Angk.3 di SMKN 1 Tigi Kab. Deiyai-Papua)

Komentar
Posting Komentar